Maumere_ Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero bersama sejumlah organisasi, melakukan aksi solidaritas di depan Gedung Pengadilan Negeri Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (21/5/2026). Aksi ini menjadi bukti nyata kepedulian BEM IFTK Ledalero terhadap perjuangan keluarga korban dalam menuntut penegakan keadilan atas kasus kematian yang menimpa Noni.
Aksi ini melibatkan gabungan elemen masyarakat, termasuk GMNI, JIPIC SVD, SSPS, TRUK-F, serta keluarga korban dan maryarakat sekitar. Mereka berkumpul untuk menyuarakan keprihatinan atas proses penegakan hukum kasus Noni yang dinilai belum menemukan titik terang. Massa aksi berdiri teguh menghadap Gedung Pengadilan Negeri Maumere, menentang potensi kelalaian hakim dalam menangani kasus ini secara tuntas.
P. Vande Raring, SVD selaku kordinator JPIC, menyampaikan orasi mewakili massa. Ia menegaskan bahwa kehadiran massa aksi merupakan bentuk respons moral terhadap jeritan keadilan yang disumbat oleh sistem. "Suara keadilan untuk Noni akan menjadi ketidaksamaan jika hukum itu buta," tegas Pater Vande.
Sementara itu, Vano Jemadin, perwakilan BEM IFTEK Ledalero, menambahkan adanya kesenjangan antara fakta di lapangan dengan putusan hukum yang ada. "Kami tidak mau kasus ini dinormalisasikan, tanpa ada kejelasan hukum. Jangan sampai ada Noni yang kedua," ujarnya dengan nada tegas namun tenang.
Rangkaian aksi dimulai dari perkantoran TRUK-F sebelum akhirnya berbaris menuju Gedung Pengadilan Negeri Maumere. Selanjutnya, delegasi massa bergerak ke Kantor Polisi Resor Sikka untuk menyerahkan tuntutan terkait transparansi investigasi digital forensik melalui komunikasi WhatsApp atau rekaman suara.
Aksi ini berlangsung mulai siang hingga sore hari. Kobaran terik matahari Kota Maumere tidak mengurangi semangat massa aksi untuk terus menuntut keadilan proses hukum demi keberpihakan pada korban.
Penyelenggara aksi menilai integritas penegak hukum perlu dipertanyakan mengingat lambatnya hasil investigasi digital forensik. Mereka mendesak agar polisi segera membuka ruang dialog dan membeberkan bukti-bukti terkait kasus ini secara terbuka, seperti rekaman percakapan yang ada di dalam ponsel korban. Selain itu, massa aksi menuntut majelis hakim agar memeriksa saksi dan barang bukti secara cermat sehingga pelaku lain yang turut membantu pelaku utama dapat dihukum.
Setelah menyampaikan aspirasi, massa aksi memilih jalur dialog. Perwakilan dari setiap organisasi masuk ke ruangan pertemuan bersama pejabat Polres Sikka untuk membahas lebih lanjut terkait kasus tersebut. Langkah ini menunjukkan komitmen BEM IFTEK Ledalero dan kawan-kawan dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Ini membuktikan bahwa ilmu bukan hanya berhenti di ruang kelas, melainkan bersuara dan berjuang bersama secara nyata.
Penulis: Tim pemberitaan BEM IFTK Ledalero


SHARE THIS
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum volutpat tortor nec vulputate pe0
Cras consectetur suscipit nisi a fermentum. Class aptent taciti sociosqu ad litora
Vivamus convallis lobortis dolor, eu varius ipsum tincidunt sed. Suspendisse sit amet ante ullamcorp0
Nulla vitae urna orci. Nunc at dictum ligula, vel suscipit nunc.
© Copyright 2026 by Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology - Design By Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology

