Ledalero, Maumere_Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero menyelenggarakan kegiatan nonton bareng (nobar) serta diskusi film dokumenter Pesta Babi di Aula Thomas Aquinus, Kampus IFTK Ledalero, Kamis (21/5/2026) lalu. Acara ini menghadirkan mahasiswa dan dosen IFTK Ledalero, serta sejumlah partisipan lainnya dari luar lingkungan kampus untuk menilik fenomena mengenai dampak sosial-politik Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di tanah Papua.
Film Pesta Babi mengangkat isu ketimpangan kesejahteraan dan pelanggaran hak dasar masyarakat adat Papua yang kerap luput dari sorotan media. Melalui film dokumenter ini, mahasiswa diajak untuk memahami realitas penderitaan masyarakat Papua yang kehilangan lahan dan identitas akibat ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN).
Cipry Jehan Paju Dale, salah seorang sutradara film dokumenter Pesta Babi, hadir sebagai narasumber utama via zoom dalam diskusi panel tersebut. Ia menegaskan bahwa film ini bukan semata-mata berupa kritik sosial, melainkan sebuah panggilan kemanusiaan.
“Film Pesta Babi bukanlah sekadar kritik, melainkan teriakan minta tolong (cry for help) dari saudara-saudara kita di Papua,” ujar Cipry saat memaparkan latar belakang pembuatan film.
Selama proses pembuatan film, tim produksi berusaha menangkap dinamika sosio-kultural masyarakat Papua secara jujur. Meskipun menyadari bahwa film dokumenter ini belum memuat seluruh fakta di lapangan, namun Cipry menjelaskan bahwa pemilihan narasumber dan sorotan kamera dilakukan untuk menonjolkan ketidakadilan struktural yang dialami masyarakat akar rumput.
Dalam film tersebut, terdapat visual salib merah dan spanduk Laudato Si, seruan Paus Fransiskus tentang keutuhan lingkungan. Bagi masyarakat Papua, simbol-simbol tersebut merepresentasikan bentuk perlawanan damai, doa, serta harapan agar Gereja Katolik mengambil posisi tegas terkait krisis ekosida dan kultursida yang terjadi.
Prof. Dr. Otto Gusti N. Madung, SVD selaku Rektor IFTK Ledalero, memoderisasi secara langsung seluruh rangkaian diskusi ini setelah acara nonton bareng. Ia menilai bahwa dokumenter film ini menyajikan kenyataan yang timpang akibat pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang jarang, bahkan tidak sama sekali diberitakan oleh media-media mainstream.
Menurut Prof. Otto, tanggung jawab akademisi tidak berhenti sebatas pemahaman teoritis, tetapi harus berujung pada partisipasi nyata. Tanggapan akademik terhadap fenomena seperti yang digambarkan dalam film dokumenter Pesta Babi seharusnya memicu gerakan sosial yang konkret.
Isu keberpihakan Gereja juga menjadi pembahasan hangat dalam diskusi tersebut. Cipry mengungkapkan bahwa selama proses pembuatan film dokumeneter ini, keterlibatan Gereja dalam upaya emansipasi masyarakat Papua terasa minim. Menurutnya, posisi Gereja cenderung abu-abu, meskipun ajaran Gereja sesungguhnya menolak secara tegas segala bentuk genosida, ekosida, maupun kultursida.
Acara nobar yang diinisiasi oleh BEM IFTK Ledalero dianggap sebagai langkah positif yang telah lama dinanti oleh para kru film, karena dinilai mewakili suara moral institusi pendidikan berbasis religius yang ada di Indonesia.
Sr. Ika, SSPS, narasumber lainnya dalam diskusi tersebut, memberikan penekanan pentingnya aktivisme mahasiswa. Ia mengajak civitas akademika IFTK Ledalero untuk tidak hanya berdiam diri mendengarkan keluh kesah korban ketidakadilan, tetapi juga turun langsung ke medan perjuangan hak-hak sipil.
“Hendaknya kita meneruskan teriakan minta tolong dan seruan doa dari saudara-saudara kita di Papua,” ajak Sr. Ika.
Ia menambahkan, diskusi di ruang tertutup tidak akan membawa perubahan jika tidak diejawantahkan ke ranah publik. Mahasiswa diminta proaktif menyuarakan kebenaran melalui tulisan-tulisan dan aksi-aksi solidaritas yang konstruktif demi terciptanya keadilan sosial, khususnya di wilayah Kabupaten Sikka dan Papua.
Kegiatan nobar dan diskusi film dokumenter Pesta Babi tersebut berjalan lancar. Suasan Aula Thomas Aquinus dipenuh gairah intelektual. Sesi tanya jawab berlangsung interaktif. Para mahasiwa melontarkan pertanyaan multidimensi mulai dari hukum, HAM, kewajiban negara, filsafat, hingga sudut pandang teologi.
Diskusi setelah nobar film Pesta Babi terlihat terus berlanjut. Mahasiswa tampak masih meneruskan diskusi di lorong-lorong aula. Hal ini menunjukkan bahwa minat mahasiswa IFTK Ledalero yang tinggi dalam menonton film ini menjadi tanda kepedulian mereka terhadap sesama yang mengalami ketidakadilan.[*]
Penulis: Tim Pemberitaan BEM IFTK Ledalero
SHARE THIS
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum volutpat tortor nec vulputate pe0
Cras consectetur suscipit nisi a fermentum. Class aptent taciti sociosqu ad litora
Vivamus convallis lobortis dolor, eu varius ipsum tincidunt sed. Suspendisse sit amet ante ullamcorp0
Nulla vitae urna orci. Nunc at dictum ligula, vel suscipit nunc.
© Copyright 2026 by Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology - Design By Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology

