Napugera: Bukan Tertinggal, tetapi Ditinggalkan

img

Catatan (Praktik Pastoral Lapangan) PPL dari Ujung Misi
Oleh: 

Sebagai mahasiswa PPL, saya datang ke tempat praktik bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan akademik, melainkan untuk belajar menyentuh realitas hidup umat secara langsung. Saya mencari pengalaman baru: hidup bersama mereka yang jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari keramaian, dari gemerlap kemewahan, dari jalan-jalan yang diterangi lampu, bahkan jauh dari kemudahan jaringan yang bagi generasi kami: generasi Z, seolah sudah menjadi kebutuhan primer.

Perjalanan saya dari Paroki St. Vincentius A Paulo Feondari menuju Stasi Simon Orang Zelot Napugera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, menjadi semacam baptisan realitas. Jalan yang saya lalui begitu ekstrem: berbatu, berlubang, licin, dan menanjak tajam. Sepanjang perjalanan, saya sempat bertanya dalam hati, apakah ini jalan menuju kampung atau sekadar jalan menuju kebun? Namun justru di ujung jalan yang tampak “tak layak” itulah saya menemukan sebuah komunitas yang hidup bukan sekadar bertahan, tetapi memelihara martabatnya dalam kesederhanaan.

Sesampainya di Napugera, suasana seketika berubah hening. Tidak ada lampu jalan yang menyala terang. Listrik belum merata. Jaringan telepon sering kali tidak ada sama sekali; jika ingin menelepon, orang harus naik ke atas bukit. Bagi saya yang datang sebagai orang baru, terlebih sebagai anak muda yang terbiasa dengan konektivitas instan, pengalaman ini terasa sangat asing. Namun justru dalam keterasingan itu saya mulai melihat sesuatu yang lebih dalam: modernitas ternyata sering membuat kita lupa bahwa hidup tidak diukur dari seberapa cepat internet kita, melainkan dari seberapa hangat relasi antar manusia.

Di Napugera, orang-orang hidup dalam kesederhanaan yang nyaris tanpa sentuhan kemewahan. Tetapi di sanalah saya mengalami makna terdalam, bahwa inti hidup bukanlah fasilitas, melainkan kasih yang diwujudkan dalam perhatian sederhana. Ketika saya menjalankan pendataan (Basis Integrasi Data Umat Keuskupan) BIDUK Nusantara, dari rumah ke rumah, hampir setiap keluarga selalu menawarkan kopi hangat. Tindakan kecil itu tampak biasa, tetapi sesungguhnya menyimpan teologi kemanusiaan yang besar: mereka yang serba terbatas justru paling kaya dalam memberi.

Mayoritas masyarakat di lingkungan Ratebata Stasi Napugera adalah petani. Karena itu, saya harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menemui mereka sebelum ke kebun. Dari proses pendataan itulah saya menemukan kenyataan yang sangat mengguncang: sekitar 70% anak-anak mengalami putus sekolah. Ini bukan pertama-tama soal ketidakmampuan ekonomi, tetapi soal akses. Jarak sekolah terlalu jauh. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur, hutan harus ditembus, dan perjalanan menjadi ancaman yang nyata bagi keselamatan anak-anak.

Di titik ini, Napugera tidak lagi sekadar menjadi lokasi praktik pastoral, tetapi berubah menjadi cermin kegagalan pembangunan.

Lalu pertanyaan kritis pun muncul: di mana mereka yang selama ini menjanjikan kemajuan?
Di mana negara ketika anak-anak harus memilih antara pendidikan dan keselamatan?
Di mana pemerintah yang saat kampanye datang membawa janji perubahan, tetapi setelah terpilih hanya sibuk menata wajah depan tanpa pernah menyentuh halaman belakang?

Napugera memperlihatkan ironi pembangunan yang telanjang: pusat-pusat kota dipoles demi citra kemajuan, sementara wilayah pelosok dibiarkan bergulat sendiri dengan lumpur, gelap, dan keterisolasian. Yang terjadi bukan sekadar ketertinggalan, tetapi sebuah bentuk pengabaian yang terstruktur. Maka saya berani mengatakan: Napugera bukan tertinggal, melainkan ditinggalkan.

Sebagai wilayah yang seluruh penduduknya beriman Katolik, realitas ini juga menjadi pertanyaan serius bagi gereja. Bagaimana keberpihakan gereja terhadap pendidikan? Apakah cukup jika kita hanya menjaga iman umat tetap hidup, tetapi membiarkan pengetahuan mereka perlahan mati? Bukankah iman dan akal budi seharusnya berjalan seiring?

Gereja tidak boleh puas hanya dengan sakramen yang terus berjalan, sementara anak-anak kehilangan masa depan karena akses pendidikan diabaikan. Iman yang sehat harus melahirkan keberanian untuk memperjuangkan keadilan sosial. Sebab Injil tidak hanya berbicara tentang keselamatan jiwa, tetapi juga martabat hidup manusia secara utuh.

Pengalaman di Napugera mengajarkan saya bahwa misi bukan sekadar hadir, mendata, lalu pulang membawa laporan. Misi yang sejati adalah keberanian untuk membawa suara mereka yang selama ini tidak terdengar. Suara petani yang setiap pagi menembus kebun. Suara anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah. Suara umat yang naik bukit hanya untuk mencari sinyal. Suara sebuah kampung yang selama ini tidak miskin semangat, tetapi miskin perhatian.

Napugera tidak membutuhkan belas kasihan. Yang mereka butuhkan adalah keadilan pembangunan, keberpihakan pendidikan, dan keseriusan pastoral yang membebaskan.

Dan dari ujung kampung itu saya belajar satu hal penting: terkadang yang paling jauh dari kota justru paling dekat dengan kebenaran tentang hidup. Bahwa kasih, kesederhanaan, dan perjuangan martabat manusia jauh lebih terang daripada lampu-lampu jalan kota yang gemerlap.

BAGIKAN