Menjalani perjalanan hidup dari ketenangan Flores menuju kerasnya Ibu Kota Jakarta adalah pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan batin yang mengubah cara pandang saya tentang hidup, keberagaman, perjuangan, dan arti menjadi seorang pendidik.
Saya lahir dan besar di Flores, sebuah pulau yang penuh ketenangan, kehangatan, dan nilai kekeluargaan yang sangat kuat. Di sana, kehidupan berjalan lebih sederhana. Udara pagi terasa sejuk, pepohonan hijau menenangkan mata, dan suara alam menjadi teman sehari-hari. Tidak ada kebisingan kendaraan atau hiruk pikuk kota besar. Semua terasa damai.
Saya kemudian menempuh pendidikan di IFTK Ledalero, Maumere, sebuah institusi Katolik yang sangat kental dengan nilai-nilai filosofis dan teologis. Kehidupan di Ledalero begitu tenang dan kontemplatif. Diskusi tentang kemanusiaan, iman, pelayanan, dan kehidupan dilakukan dalam suasana yang sederhana namun mendalam. Kampus itu mengajarkan saya banyak hal tentang nilai hidup, kesederhanaan, toleransi, dan bagaimana memandang manusia dengan kasih.
Namun, dalam hati kecil saya, selalu ada keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Saya ingin keluar dari zona nyaman, melihat dunia yang lebih luas, dan merasakan kehidupan yang berbeda dari tanah kelahiran saya. Jakarta, kota yang selama ini hanya saya lihat di televisi dan media sosial, perlahan menjadi tempat yang ingin saya datangi.
Hingga akhirnya kesempatan itu datang. Saya memutuskan merantau ke Jakarta dan bekerja di Yayasan Persekolahan Chandra Kusuma, milik Dr. Eddie Kusuma, SH., MH atau Eddie Kusuma di Jakarta Utara. Keputusan itu bukan keputusan yang mudah. Saya harus meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan segala kenyamanan yang selama ini menemani hidup saya. Ada rasa takut, cemas, dan ragu. Tetapi saya percaya bahwa setiap langkah besar dalam hidup selalu membutuhkan keberanian.
Saat pertama kali tiba di Jakarta, saya benar-benar merasakan perbedaan yang sangat besar. Kota ini begitu sibuk, panas, padat, dan bergerak sangat cepat. Jakarta seolah tidak pernah tidur. Kendaraan memenuhi jalanan hampir setiap waktu. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, truk kontainer melintas tanpa henti, dan asap kendaraan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sebagai orang yang terbiasa hidup di lingkungan tenang, semua itu terasa begitu mengejutkan. Setiap pagi, tantangan pertama saya bukanlah menyiapkan materi pelajaran atau menghadapi murid di kelas, melainkan menghadapi kemacetan Jakarta Utara. Perjalanan dari kos menuju sekolah ditempuh dalam kurang lebih satu jam dan karena itu sangat menguras tenaga dan emosi. Terkadang saya harus berangkat sangat pagi agar tidak terlambat. Di tengah kemacetan itu, saya sering teringat suasana Flores yang damai. Saya merindukan suara angin yang melewati pepohonan dan udara segar kampung halaman.
Namun perlahan saya belajar bahwa kehidupan memang tidak selalu nyaman. Kemacetan, panas, dan kebisingan kota ternyata mengajarkan saya tentang kesabaran, ketekunan, dan kemampuan beradaptasi. Saya mulai memahami bahwa setiap tempat memiliki tantangannya sendiri.
Di Yayasan Chandra Kusuma, saya dipercayakan mengajar Pendidikan Agama Katolik mulai dari kelas 1 SD hingga kelas XII SMA. Pengalaman mengajar di sekolah ini sangat berbeda dengan yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Murid yang beragama Katolik jumlahnya sangat sedikit. Bahkan dalam beberapa kelas, hanya ada satu atau dua anak Katolik. Sementara murid beragama Kristen jumlahnya lebih banyak, sehingga mereka digabung dalam pelajaran agama bersama.
Awalnya saya sempat berpikir, apakah saya mampu mengajar dalam situasi seperti itu? Namun seiring waktu, saya justru menemukan pengalaman yang sangat berharga.
Walaupun jumlah mereka sedikit, anak-anak itu tetap semangat belajar tentang iman mereka. Ada kebanggaan tersendiri melihat mereka tetap percaya diri meski menjadi minoritas di lingkungan sekolah yang mayoritas beragama Buddha. Suasana belajar menjadi sangat intim dan mendalam. Kami tidak hanya belajar teori agama, tetapi juga belajar tentang kasih, toleransi, pelayanan, dan bagaimana menghargai perbedaan.
Saya menyadari bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk saling memahami. Justru di tengah perbedaan itulah saya belajar arti persaudaraan yang sesungguhnya.
Selain mengajar agama, saya juga dipercayakan mengajar Seni Musik untuk kelas 1 sampai 3 SD. Di sinilah saya menemukan kebahagiaan lain dalam dunia pendidikan. Ketika masuk ke kelas musik, suasana langsung berubah. Anak-anak kecil menyambut dengan wajah ceria dan penuh semangat. Di kelas ini, perbedaan agama seolah menghilang. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan semua anak tanpa memandang latar belakang mereka.
Saya mengajarkan lagu-lagu daerah Indonesia, mengenalkan alat musik sederhana, dan mengajak mereka bernyanyi bersama. Melihat kepolosan mereka membuat rasa lelah akibat perjalanan dan kemacetan Jakarta perlahan menghilang. Tawa mereka menjadi obat bagi rasa penat saya.
Ada momen-momen sederhana yang sangat membekas dalam hati saya. Ketika seorang anak yang awalnya malu akhirnya berani bernyanyi di depan kelas. Ketika anak-anak saling membantu memainkan alat musik. Ketika mereka tertawa bersama tanpa mempersoalkan perbedaan agama maupun suku. Dari anak-anak itu saya belajar bahwa kebersamaan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana.
Bekerja di lingkungan yang mayoritas beragama Buddha juga memberikan pengalaman baru yang sangat berharga bagi saya. Saya belajar banyak tentang toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman. Saya merasa sangat terbantu untuk hidup dalam keberagaman dan toleransi ini karena kebetulan saya menulis skripsi S1 Pendidikan Keagamaan Katolik di IFTK Ledalero tentang sikap toleransi di kalangan siswa SMAN 1 Maumere. Latar belakang pendidikan Katolik yang saya miliki dari Ledalero tidak menjadi tembok pemisah, melainkan menjadi jembatan untuk membangun relasi yang baik dengan semua orang.
Saya semakin percaya bahwa menjadi guru bukan hanya soal menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga soal menghadirkan kasih, ketulusan, dan semangat untuk melayani siapa saja tanpa membedakan latar belakang mereka.
Jakarta memang panas, bising, dan penuh tantangan. Tetapi di balik semua itu, kota ini mengajarkan saya banyak hal tentang perjuangan dan kedewasaan hidup. Saya belajar hidup mandiri, belajar mengelola rasa rindu kepada keluarga, belajar menghadapi tekanan, dan belajar bertahan dalam situasi yang tidak selalu mudah.
Perjalanan dari Flores menuju Jakarta membuat saya menyadari bahwa mimpi kadang membawa kita jauh dari tempat asal kita. Namun justru di tempat baru itulah kita menemukan versi terbaik dari diri kita sendiri.
Hari ini saya percaya bahwa merantau bukan hanya tentang mencari pekerjaan atau pengalaman baru. Merantau adalah proses menemukan makna hidup. Tentang bagaimana seseorang belajar keluar dari zona nyaman, menerima perbedaan, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.
Bagi siapa pun yang sedang takut melangkah keluar dari tempat asalnya, saya ingin mengatakan bahwa jangan takut mencoba. Dunia di luar sana memang tidak selalu mudah, tetapi setiap tantangan akan membentuk kita menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bijaksana.
Saya bersyukur pernah lahir dan tumbuh di Flores yang penuh ketenangan. Tetapi saya juga bersyukur karena berani datang ke Jakarta yang penuh pelajaran kehidupan dan hiruk pikuknya tidak berkesudahan, namun dibalik hiruk pikuk itu justru saya menemukan pelajaran hidup.
Dari bukit-bukit tenang di Flores hingga hiruk pikuk Jakarta Utara, saya belajar bahwa hidup bukan tentang memilih tempat yang paling nyaman, melainkan tentang berani bertumbuh di mana pun kita berada.
BAGIKAN
PROGRAM STUDI SARJANA FILSAFAT PROGRAM STUDI SARJANA PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK PROGRAM STUDI SARJ0
Penerimaan mahasiswa baru IFTK Ledalero tahun akademik 2025/2026 Prodi Ilmu Filsafat (S1) Prodi Pend0
Pendaftaran Online Program Studi Sarjana Filsafat, PKK, DKV, Kewirausahaan, Sistem Informasi & Magis0
© Copyright 2026 by Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero - Design By Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

