•  Beranda  /
  •  Public  /
  •  Merajut Ragam, Menenun Damai: Catatan Live-in Interfaith di Tanah Poso

Merajut Ragam, Menenun Damai: Catatan Live-in Interfaith di Tanah Poso

img

Penantian panjang itu pun membuahkan hasil yang manis. Setelah melewati seluruh tahapan pendaftaran, momen penentuan tiba pada 9 Juni 2026 saat saya mengikuti sesi wawancara bersama Biro Pemuda & Remaja Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Sesi tersebut menjadi pintu masuk utama sebelum kami menanti kabar kepastian selama beberapa minggu.

Kabar gembira yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Saya dinyatakan lolos sebagai satu-satunya perwakilan dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Saat ini, saya merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Saya mengikuti program Live-in Interfaith: Tanah Air itu Bhinneka (TAB) Angkatan VII – Goes to Posoyang diselenggarakan di Poso pada tangggal 19-25 Juli 2026.

Ketertarikan saya pada kegiatan ini didasari oleh kerinduan akan perjumpaan lintas iman, sebuah ruang keberagaman yang dipersatukan dalam kegiatan live-in. Ini adalah hal yang sudah lama saya idamkan, bahwa perjumpaan seperti ini harus terus dihidupkan dan dirawat di bumi Nusantara.

Di balik rasa bangga yang membuncah, ada selip kecemasan yang tak mampu disembunyikan. Sebagai seorang anak muda, saya mendengar bahwa wilayah Poso, dalam ingatan kolektif, masih sering diidentikan sebagai daerah konflik. Namun, justru dari sinilah panggilan itu bermula: kesadaran bahwa kebinekaan tidak cukup sekadar diwacanakan, melainkan harus dirawat, dihidupi, dan dijunjung tinggi secara nyata.

 

Dialog Kehidupan: Berpindah dari Toleransi Pasif ke Aktif

Sebuah fakta sosial menyebutkan bahwa lebih dari 80% konflik di era modern lahir karena masyarakat hanya mendengar tentang, bukan mendengar langsung dari mereka yang berbeda. Di tengah gempuran polarisasi dan prasangka, kegiatan Live-in Lintas Iman hadir sebagai ruang perjumpaan yang sangat konkret dan krusial.

Dengan menempatkan seluruh peserta untuk tinggal dan hidup berdampingan langsung bersama warga lokal, program ini menggeser paradigma toleransi pasif (sekadar membiarkan perbedaan) menjadi toleransi aktif dan empatik (saling mengenal dan merasakan). Melalui dialog kehidupan sehari-hari, seperti berbagi meja makan, bertukar cerita, hingga beraktivitas bersama, prasangka perlahan mengikis, membuka jalan bagi hadirnya fondasi kerukunan antarumat beragama yang inklusif.

 

Melatih Cara Pandang: Pembekalan dan Rekonsiliasi Akar Rumput

Selama lima hari, dinamika kegiatan berlangsung penuh antusiasme, baik dari para pemateri maupun peserta. Salah satu poin reflektif yang paling berkesan adalah ajakan untuk mengkritisi cara pandang kebihnekaan versi negara yang terkadang bersifat semu dan mengabaikan aspek ekologis.

Melalui perjumpaan di Poso, kami diajak menyaksikan secara langsung bagaimana kedamaian sejati dirawat secara konsisten oleh masyarakat di tingkat akar rumput. Poso tidak lagi sekadar menjadi panggung konflik masa lalu, melainkan telah menjelma menjadi simbol serta pilar pembelajaran rekonsiliasi bagi seluruh wilayah di NKRI.

Untuk membekali para peserta agar mampu menjadi agen perdamaian, rangkaian materi disajikan secara komprehensif, mencakup: 1) Religiositas dan Budaya Lokal Poso (memahami akar spiritualitas dan kearifan lokal masyarakat setempat), 2) Team Building & Teamwork  (membangun solidaritas dan kerja sama antarpeserta dari beragam latar belakang, 3) Udar Asumsi & Analisis Sosial (Membedah persepsi subjektif dan mengasah pemahaman terhadap realitas sosial, 4) Praktik Lapangan Ansos & Refleksi (turun langsung ke masyarakat dan mengolah temuan secara mendalam), 5) Asset-Based Community Development (ABCD) (Pendekatan pemberdayaan berbasis pada potensi dan aset yang dimiliki komunitas), 6) Kepeloporan dan Perubahan Sosial (menyiapkan kapasitas peserta untuk menjadi pemicu perubahan positif sekembalinya ke daerah asal).

 

Puncak Refleksi di Tepi Danau Poso

Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya saat seluruh peserta bertolak ke Tentena, di tepi Danau Poso. Setelah melampaui berbagai sesi materi yang padat dan mendalam, kami disuguhkan keagungan Danau Poso, sebuah mahakarya alam ciptaan Tuhan yang begitu menenangkan.

Namun, keindahan tersebut tidak sekadar menjadi tempat berwisata, melainkan ruang refleksi kritis. Di hadapan alam yang megah, lahir sebuah pertanyaan mendalam bagi kami semua:

"Apakah atas nama pembangunan dan tambang (Proyek Strategis Nasional/PSN), alam sejelita ini harus dirusak? Atau sebaliknya, haruskah kita terus menjaganya demi keseimbangan ekologis dan keberlangsungan seluruh makhluk hidup?"

 

Kerinduan yang Tertinggal di Lembomawo

Lima hari tentulah durasi yang singkat dalam hitungan waktu. Namun, setiap pembelajaran yang diserap, jejak langkah yang dipijak, kehangatan senyum bapak dan mama asuh, serta kelembutan penerimaan masyarakat Lembomawo, Poso, telah menorehkan kesan yang tak terhapuskan.

Terima kasih yang mendalam juga kami sampaikan kepada pihak penyelenggara beserta mitra Mission 21, Kemitraan Emansipatoris PGI-PKN, dan GKST atas segala dukungan dan hospitality yang luar biasa selama kegiatan berlangsung.

Perjalanan ini telah usai, tetapi api perdamaian dan kerinduan akan hangatnya persaudaraan di Poso akan terus membekas serta menjadi bekal berharga dalam menapaki perjalanan hidup ke depan.

 

Oleh: Efrem Segha (Mahasiswa tingkat II Prodi PKK IFTK Ledalero, Peserta TAB Angkatan VII)

 

 live in poso 6live in poso 4live in poso 2live in poso 1

BAGIKAN