Simposium hari pertama yang diselenggarakan oleh IFTK Ledalero mengangkat tema Embodying The Sacred in the Digital Age: A Mediated Communication Approach, yang dibawakan oleh Dr. Benjamina Paula G. Flor. Dalam kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 19 Februari 2026 ini, Dr. Benjamina mengulas fenomena digitalisasi agama, berupa praktik ritual keagamaan yang lazimnya dilakukan secara offline, perlahan-lahan berpindah ke ruang digital.
Menurut pengakuannya, presentasi yang ia bawakan hari ini berangkat dari pengalaman pribadinya. “I often attend mass online. This is because, even though my house is not too far from the church, attending mass online is still more efficient in many ways.” ungkapnya dalam bahasa inggris dengan dialek Filipina yang kental. Akademisi ilmu komunikasi asal Filipina ini juga menambahkan bahwa alasan di balik fenomena digitalisasi agama tidak sekadar dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, melainkan juga oleh keadaan dunia.
“Pengalaman kita semua saat menghadapi Covid-19 adalah contoh paling konkret bagaimana situasi sekitar mampu menggeser praktik keagamaan manusia ke ruang-ruang digital” ungkapnya. Dengan kata lain, pembatasan terhadap interaksi antar manusia, turut memengaruhi penghayatan dan praktik keagamaan seseorang, seperti yang dialami banyak orang selama pandemi Covid-19. Meski demikian, Dr. Benjamina berpendapat bahwa terdapat aspek positif dari fenomena ini. Sebab, pengalaman akan “Yang Sakral” masih tetap dapat dijumpai manusia, meski berada di dunia internet. Lebih dari itu, ia menambahkan “Digitalisasi kultus rohani adalah praktik positif untuk memperkenalkan tradisi keagamaan secara luas, seperti yang marak dilakukan di Filipina” tandasnya.
Bahan yang disampaikan Dr. Benjamina selama simposium rupanya sanggup memantik nalar kritis para peserta. Salah satu peserta, misalnya, yang cukup keras menggugat tesis Dr. Benjamina adalah Pater Bernard Boli Udjan, SVD. Mantan anggota Komisi Liturgi KWI ini mempersoalkan pemaknaan sakramen (ekaristi) dalam dunia digital. Menurut dosen Liturgi di IFTK Ledalero ini, sakramen tidak dapat dihadirkan lewat internet. “Memang benar bahwa banyak dijumpai hal-hal baik, namun sakramen sungguh tidak dirayakan sebagaimana mestinya” ujarnya.
Saat diwawancarai selepas simposium berakhir, Dr. Benjamina mengungkapkan kegembiraanya karena dapat membawakan materi di simposium ini. “I am grateful to this institution for inviting me to this symposium”. Ia juga berharap agar IFTK Ledalero terus memegang komitmennya untuk berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama terkait isu agama dan teknologi. (Naldi Muga)
Galeri Simposium Internasional









BAGIKAN
PROGRAM STUDI SARJANA FILSAFAT PROGRAM STUDI SARJANA PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK PROGRAM STUDI SARJ0
Penerimaan mahasiswa baru IFTK Ledalero tahun akademik 2025/2026 Prodi Ilmu Filsafat (S1) Prodi Pend0
Pendaftaran Online Program Studi Sarjana Filsafat, PKK, DKV, Kewirausahaan, Sistem Informasi & Magis0
© Copyright 2026 by Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero - Design By Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

