Oleh: Eldhos Lerin
Ada masa dalam hidup yang tidak hanya menguji kemampuan berpikir, tetapi juga menguras seluruh daya tubuh dan jiwa. Tiga bulan terakhir ini adalah salah satunya. Hari-hari kami tidak lagi sekadar dihitung oleh kalender, tetapi oleh tugas yang menumpuk, diskusi yang tak kunjung usai, latihan yang menyita energi, dan tanggung jawab yang terus mendesak tanpa memberi ruang jeda. Kami berjalan cepat, bahkan terkadang terlalu cepat, sampai lupa bahwa tubuh ini punya batas.
Kami belajar banyak hal tentang ilmu, tentang tanggung jawab, tentang kebersamaan. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang sering kami abaikan: kesehatan kami sendiri. Tidur menjadi barang mewah. Makan sekadar untuk bertahan. Istirahat terasa seperti kesalahan di tengah tuntutan yang terus berteriak untuk diselesaikan. Kami memaksa diri untuk kuat, seolah-olah raga ini tidak pernah lelah, seolah-olah jiwa ini tidak pernah retak.
Namun di balik kelelahan itu, ada kisah lain yang tumbuh diam-diam. Kisah tentang persahabatan yang dipahat oleh penderitaan bersama. Tentang tawa yang muncul di sela-sela keletihan. Tentang bahu yang selalu siap menjadi tempat bersandar, meski sama-sama rapuh. Kami tidak hanya belajar sebagai individu, tetapi juga sebagai komunitas yang saling menguatkan.
Kini, setelah semua itu, kami sampai pada satu titik yang tidak kalah berat: perpisahan.
Bukan karena kami tidak ingin bersama lagi, tetapi karena panggilan kami berbeda. Kami diutus ke tempat yang berbeda, ke medan yang mungkin lebih sunyi, lebih menantang, dan lebih nyata. Tidak ada lagi ruang kelas yang sama, tidak ada lagi rutinitas yang sama, tidak ada lagi wajah-wajah yang setiap hari kami temui. Yang tersisa hanyalah kenangan dan bekal yang kami bawa dari perjalanan ini.
Perpisahan ini bukan akhir, melainkan awal dari sebuah misi.
Di tempat praktik nanti, kami tidak hanya membawa ilmu yang telah kami pelajari, tetapi juga luka-luka kecil dari proses ini. Luka yang mengajarkan kami tentang batas diri. Luka yang mengingatkan kami bahwa menjadi kuat bukan berarti mengabaikan kesehatan. Luka yang justru membentuk kami menjadi pribadi yang lebih manusiawi yang tahu kapan harus berjuang, dan kapan harus berhenti sejenak untuk bernapas.
Kami pergi dengan harapan, tetapi juga dengan doa.
Doa agar setiap langkah kami dilindungi.
Doa agar tubuh kami tetap kuat, tidak lagi dipaksa melampaui batasnya.
Doa agar kami mampu menjalankan misi dengan hati yang tulus, bukan sekadar tuntutan.
Dan yang paling sederhana, tetapi paling dalam:
semoga kami semua kembali dengan raga yang masih utuh.
Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang kami capai di tempat praktik, tetapi tentang bagaimana kami bisa kembali, masih hidup, masih sehat, dan masih mampu tersenyum.
Tiga bulan ini telah membentuk kami.
Kini medan PPL menunggu kami.
Dan kami melangkah dengan letih yang belum sepenuhnya pulih, tetapi dengan hati yang sudah siap untuk diutus.
SHARE THIS
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum volutpat tortor nec vulputate pe0
Cras consectetur suscipit nisi a fermentum. Class aptent taciti sociosqu ad litora
Vivamus convallis lobortis dolor, eu varius ipsum tincidunt sed. Suspendisse sit amet ante ullamcorp0
Nulla vitae urna orci. Nunc at dictum ligula, vel suscipit nunc.
© Copyright 2026 by Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology - Design By Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology

