Pada Jumat, 20 Februari 2026, simposium internasional yang diselenggarakan oleh IFTK Ledalero mengangkat isu-isu seputar media sosial. Simposium sesi kedua ini menghadirkan sejumlah pembicara, yang datang dari beragam latar belakang berbeda. Para pembicara itu antara lain Romo Patris Neonub, Dr. Leonard C. Epafras, dan Pater Anthony Le Duc, SVD.
Romo Patris Neonub, atau yang akrab dikenal Patris Allegro, membawakan materi berjudul Algorithmic Radiance: Viral Aesthetic, Thomistic Beauty, and the Digital Self in Southeast Asia. Dalam pemaparannya, ia mengangkat salah satu term baru dalm media sosial, yakni viral aestetik. Menurutnya, term ini merujuk pada suatu fenomena dalam dunia digital, ketika sebuah “gaya baru” lahir dan cepat populer di ruang-ruang digital. “Saya menyebut fenomena ini dengan istilah “sok-sokan” ujar apologet Katolik ini. Ia menggunakan contoh, seperti latar foto dibuat dengan kehidupan desa yang indah. Dalam wawancara yang dilakukan usai kegiatan, Romo Patris menegaskan bahwa fenomena seperti ini adalah bentuk tindakan melarikan diri dari kenyataan (hidup) yang sulit. “Hal yang sering ditampilkan di media sosial ialah aksiden (istilah filsafat) bukan substansi. Akibatnya orang sering terjebak pada apa yang berada di permukaan bukan kedalamannya” tutur dosen Filsafat di Universitas Widya Mandira, Kupang ini.
Selaras dengan Romo Patris, Dr. Leonard C. Epafras juga mengangkat tema yang sama dalam sesi Panel Discussion. Hanya saja, pria yang akrab disapa Pak Leo ini mengangkat topik healing gadget atau fenomena untuk pembatasan penggunaan ponsel. Dosen di Universitas Gadjah Mada ini berpendapat bahwa perlu adanya refleksi terhadap situasi saat ini melalui digital meditation. “Digital meditation mampu membangun kesadaran manusia bahwa saat ini, teknologi adalah bagian dari life style manusia, karena itu keuntungan dan kerugian yang dimbulkannya mesti disadari” ungkapnya. Selain itu, Pak Leo menambahkan bahwa media sosial juga mampu menciptakan polarisasi dalam masyarakat. Ia menyebutnya dengan istilah war digital.
Sementara itu, Pater Anthony Le Duc, SVD, salah satu pemateri pada simposium ini, coba menggabungkan gagasan dari Romo Patris dan Pak Leo. Menurut Pater Anthony, media sosial menjadi ruang-ruang baru dalam masyarakat, yang dapat membentuk pola-pola komunikasi tertentu. Karena itu, ia menjelaskan bahwa perlu adanya pihak yang disebut komunikator religius. Ketika ditanyai saat wawancara mengenai maksud dari komunikator religius ini, Pater Anthony menjawabnya dengan antusias. Ia menjawab bahwa komunikator religius dapat menjadi perantara yang mampu membangun ruang dialog di tengah komunitas jamak. Lebih dari itu, menurut Pater Anthony, peran ini dapat diambil oleh generasi muda yang paling memahami dinamika media sosial saat ini. “Saya juga berharap agar anak muda tidak sekadar mencari popularitas dan uang seperti para influencer, tetapi seperti influential” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa “Menjadi saksi dalam konteks Kristen tidak menjadikan orang tahu siapa dirimu, tetapi untuk membawa orang kepada Kristus, seperti Yohanes Pembaptis. Menjadi ‘influential’ Kristiani berarti mampu mengarahkan orang kepada Kristus, dan bukannya mencari keuntungan bagi dirimu sendiri”, tutup Pater Anthony. (Naldy Muga)
Galeri Simposium Internasional
SHARE THIS
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum volutpat tortor nec vulputate pe0
Cras consectetur suscipit nisi a fermentum. Class aptent taciti sociosqu ad litora
Vivamus convallis lobortis dolor, eu varius ipsum tincidunt sed. Suspendisse sit amet ante ullamcorp0
Nulla vitae urna orci. Nunc at dictum ligula, vel suscipit nunc.
© Copyright 2026 by Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology - Design By Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology

