Pada Jumat, 20 Februari 2026 simposium internasional yang diselenggarakan oleh IFTK Ledalero mengangkat dua tema berbeda. Tema pertama The Commodification of Religion and Love: Courtship Practice among Young Catholics on the Instagram Account @grup_singlekatolik dibawakan oleh Felisita Winanda Oka. Sedangkan, tema kedua, Realizing Grounded Faith: Measuring the Internalization of Ecological Awerness among Catholic Students a Decade After Laudato Si’ (A Case Study at STIKES St. Elisabeth, Maumere Diocese) yang dibawakan oleh Atanasius Dewantara, dkk.
Dalam pemaparannya, Felisita mengangkat persoalan komodifikasi agama dan percintaan yang terjadi di berbagai platform media sosial. Menurut mahasiswi pasca sarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, simbol-simbol agama menjadi komoditas paling laku di pasar digital. “Fenomena ini dapat ditemui dalam akun instagram @grup_singlekatolik, dengan ekosistem multi-platformnya yang saling terintegrasi” ungkap penerima beasiswa LPDP untuk Prodi Kajian Budaya dan Media, UGM. Indikator ini semakin diperkuat lewat postingan @grup_singlekatolik yang didominasi oleh simbol-simbol agama, serta ajang perjodohan. Masalahnya, menurut Felisita, tidak adanya batas yang jelas antara ekspresi keimanan dan upaya komersialisasi atribut agama dalam media sosial.
Sedangkan, di sesi kedua, Atanasius, dkk. mengangkat persoalan penghayatan lingkungan hidup dalam diri mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kab. Sikka, NTT. Menurut pemaparan mereka, lewat Laudato Si’, Gereja telah menyerukan agar setiap umat beriman dapat menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam konteks di Keuskupan Maumere, seruan kegembalaan tersebut ditegaskan ulang oleh Mgr. Ewaldus Martinus Sedu dengan ditetapkannya 2025 sebagai tahun Ecological Jubilee. Maka dari itu, untuk menjaga sekaligus mengukur komitmen terhadap seruan tersebut, Atanasius, dkk. berpendapat dibutuhkan kajian yang mendalam dan berkelanjutan.
Sementara itu, selama simposium hari kedua ini berlangsung, para peserta tampak begitu antusias. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan para peserta dalam setiap sesi, yang menunjukan ketertarikan peserta terhadap tema yang diangkat. Bahkan, Pater Lorens Woda, SVD, moderator sesi pertama hari itu, mesti membatasi pertanyaan yang ada. Menyikapi antusiame tersebut, para pemateri justru merasa bergembira karena mendapat banyak insight baru dari diskusi yang ada, misalnya saja Felisita. “Meski saya agak nerveous karena ini pengalaman pertama saya membawakan materi di simposium internasional, tapi saya senang diberi kesempatan ini” imbuhnya. Selain itu, ia juga berharap agar IFTK Ledalero tetap konsisten menciptakan ruang-ruang diskusi dan kajian ilmiah seperti ini, demi memajukan ilmu pengetahuan. “Semoga lewat materi yang saya bagikan hari ini, teman-teman yang hadir dapat memperoleh a new insight yang dapat mendukung penelitian lebih lanjut” tutupnya sambil tersenyum manis. (Alfian Tanggang)
Galeri Simposium Internasional
SHARE THIS
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Vestibulum volutpat tortor nec vulputate pe0
Cras consectetur suscipit nisi a fermentum. Class aptent taciti sociosqu ad litora
Vivamus convallis lobortis dolor, eu varius ipsum tincidunt sed. Suspendisse sit amet ante ullamcorp0
Nulla vitae urna orci. Nunc at dictum ligula, vel suscipit nunc.
© Copyright 2026 by Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology - Design By Ledalero Institute of Philosophy and Creative Technology

