Institut Filsafat Menyoroti Hubungan antara Perkembangan Teknologi dan Pentingnya Pemikiran Manusia
Sebuah kelas di Institut Filsafat Kledalero beberapa waktu lalu terasa berbeda. Suasana seminar yang biasanya diisi suara debat kritis tentang metafisika atau epistemologi berganti dengan layar laptop yang menyala dan notifikasi ponsel yang sesekali berbunyi. Sang dosen tiba-tiba berhenti dan bertanya kepada mahasiswanya yang sibuk mengetik: “Apakah yang kalian catat itu betul-betul hasil pemikiran sendiri, atau sekadar salinan dari ringkasan AI?” Suasana hening beberapa detik.
Institut ini memang sedang menyoroti sebuah keganjilan. Di satu sisi, perkembangan teknologi membawa kemudahan akses informasi yang luar biasa. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa nalar manusia mulai tergerus oleh kenyamanan instan. Mereka menilai, ada hubungan timbal balik antara teknologi dan pemikiran, namun bukan hubungan yang sederhana. Teknologi hadir sebagai alat, sementara akal budi tetap menjadi subjek penentu. Anehnya, banyak dari kita lebih percaya pada rekomendasi algoritma daripada insting intelektual sendiri.
Kecerdasan Buatan dan Potensi Malas Berpikir
Kajian terbaru di institut ini menunjukkan bahwa rata-rata pengguna ponsel di Indonesia menghabiskan lebih dari 5 jam per hari di layar, dan sebagian besar aktivitasnya dikendalikan oleh rekomendasi algoritma. Saya menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman di kafe tiba-tiba sepakat menonton film hanya karena “katanya FYP di TikTok”. Mereka nggak sempat memikirkan apakah film itu benar-benar sesuai dengan selera. Fenomena ini bukan sekadar masalah hiburan, tapi terkait erat dengan cara kita memproses informasi sehari-hari.
Filsafat mengajarkan bahwa berpikir itu melelahkan. Karena itu, manusia cenderung menggunakan jalan pintas kognitif atau heuristik. Algoritma di media sosial dan mesin pencari memang dirancang untuk memanjakan kecenderungan ini. Namun yang mengkhawatirkan adalah saat kita mulai kehilangan kemampuan untuk bertanya “mengapa” dan “bagaimana jika”. Institut Filsafat menekankan bahwa teknologi idealnya memicu rasa ingin tahu, bukan menggantikan proses tanya-jawab dengan jawaban instan yang kadang nggak jelas sumbernya.
Kekhawatiran tentang Hilangnya Nuansa
Dalam diskusi tertutup, beberapa dosen saya pernah bercerita bahwa mereka mulai melihat perubahan pada cara mahasiswa menulis esai. Kalimat-kalimatnya jadi terlalu mulus, nyaris sempurna, tetapi kehilangan “ciri khas” nalar sang penulis. Saya sempat membaca salah satu makalah itu dan setuju—tulisan itu seperti dihasilkan oleh mesin yang nggak pernah ragu. Padahal, dalam tradisi filsafat, keraguan adalah salah satu awal dari kebijaksanaan. Kehilangan nuansa berarti kehilangan sisi manusiawi dari pemikiran itu sendiri.
Kritik halus tentu juga dialamatkan pada industri teknologi yang sering mempromosikan produknya sebagai solusi mutlak. Banyak aplikasi belajar mengklaim bisa membuat siapa saja jadi “ahli” dalam hitungan pekan. Di situlah kami melihat ada semacam pelemahan terhadap kerja keras intelektual. Institut ini mengingatkan bahwa pengetahuan bukanlah kumpulan data yang bisa di-download, melainkan proses pergulatan batin. Ketika semua serba cepat, yang dikorbankan adalah kedalaman pemahaman—dan itu nggak bisa diukur oleh metrik apapun.
Manusia sebagai Subjek, Bukan Objek Teknologi
Salah satu sesi kuliah yang paling membekas bagi saya adalah saat seorang dosen mengatakan bahwa teknologi yang berkembang pesat sejak tahun 2022 sering memperlakukan manusia sebagai objek prediksi. Data perilaku kita dikumpulkan, diproses, lalu kita diberi umpan balik tanpa kita minta. Menurut catatan internal institut, pengguna aktif internet di Indonesia mencapai angka lebih dari 212 juta orang pada tahun 2025, dan sebagian besar menjadi target eksploitasi data. Padahal, seharusnya manusia yang mengendalikan alat, bukan sebaliknya.
Kami mengamati bahwa banyak startup dan perusahaan raksasa teknologi berlomba-lomba menciptakan ekosistem yang “mengunci” pengguna. Mulai dari kebiasaan scrolling, pola belanja, hingga preferensi politik, semuanya diarahkan oleh sistem. Institut menyebut ini sebagai bentuk “penjinakan” nalar kritis. Tawaran personalisasi yang disuguhkan seolah-olah membuat kita istimewa, namun sebenarnya membuat pandangan kita semakin sempit. Ini sindiran bagi para pelaku industri: jangan terlalu bangga dengan engagement rate jika itu hanya mengerdilkan cara pikir manusia.
Data vs Kebijaksanaan dalam Praktik
Mari kita lihat contoh konkret di dunia jurnalistik dan konten digital. Dalam sebuah simulasi yang saya ikuti, mahasiswa diminta membandingkan berita hasil riset lapangan dengan artikel yang dihasilkan oleh perangkat AI. Hasilnya, AI mampu menyajikan data lebih cepat dan rapi, tapi gagal menangkap konteks sosial-emosional di balik angka-angka itu. Misalnya, tentang kisah nelayan di pesisir selatan yang kehilangan hasil tangkapan—AI hanya menyajikan statistik cuaca, tanpa menyentuh aspek ketahanan keluarga. Di sinilah pemikiran manusia tidak tergantikan.
Institut Filsafat menekankan bahwa pemikiran manusia tidak hanya soal logika deduktif, tapi juga empati dan pertimbangan moral. Sementara itu, tren industri saat ini justru cenderung mengabaikan kedua hal itu demi efisiensi dan skalabilitas. Kita seringkali mendengar jargon “data-driven”, tetapi jarang mendengar “wisdom-driven”. Padahal, tanpa kebijaksanaan, data hanyalah deretan angka yang dingin. Saya sempat menanyakan hal ini langsung ke salah satu pengembang aplikasi edukasi, dan mereka mengakui bahwa fitur etika belum pernah masuk dalam prioritas pengembangan produk mereka.
Menuju Keseimbangan di Masa Depan
Untuk menjawab tantangan ini, Institut Filsafat merancang kurikulum khusus yang memadukan studi teknologi dengan logika klasik dan etika. Mereka mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna cerdas, tetapi juga kritikus yang mampu membaca kode di balik antarmuka yang ramah. Dalam salah satu sesi praktikum, kami diajarkan untuk “membongkar” cara kerja rekomendasi di e-commerce dan media sosial. Hasilnya cukup mengejutkan: banyak dari mahasiswa mulai sadar bahwa mereka selama ini menjadi korban bias algoritma tanpa mereka sadari.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Institut mendorong kita untuk membangun “ruang hening” digital, yaitu waktu khusus di mana kita tidak terhubung dengan gawai dan benar-benar merenung. Di ruang itu, pemikiran kritis dapat diasah lagi. Tentu saja ini berat, karena dunia sudah terlanjur terhubung. Namun, pertanyaan yang diajukan institut ini tetap menggantung di benak saya: apakah kita masih punya cukup nyali untuk berpikir dengan kepala sendiri, atau kita akan terus menyerahkan segalanya pada tombol “next” dan “rekomendasi”...?
Ke depan, hubungan antara teknologi dan pemikiran manusia akan terus menjadi perdebatan hangat. Namun yang jelas, kita tidak bisa lagi bersikap pasif. Pertanyaan terbuka bagi kita semua: apakah kita mau menjadi arsitek masa depan kita sendiri, atau hanya sekadar penghuni yang diatur oleh rumah yang kita bangun bersama tanpa kesadaran? Mungkin jawabannya masih bisa ditemukan, jika kita mau meluangkan waktu untuk berpikir, sebelum layar ponsel kembali menyala dan menarik perhatian kita.