Institut Filsafat Menghadirkan Ruang Diskusi tentang Hubungan antara Pemikiran Kritis dan Perkembangan Teknologi
Bayangkan sebuah ruang kuliah di ketinggian Bukit Ledalero, Flores. Di sana, mahasiswa tidak hanya diajari cara membuat algoritma atau merancang antarmuka pengguna. Mereka diajak bertanya: apa yang terjadi pada martabat manusia ketika keputusannya digantikan oleh rekomendasi mesin? Di tengah hiruk-pikuk startup dan gempuran kecerdasan buatan, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero mencoba mengambil jalur berbeda, menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan pemikiran kritis dengan perkembangan teknologi. Sebuah upaya yang terasa nyeleneh di era ketika efisiensi seringkali dijadikan satu-satunya ukuran kemajuan.
Transformasi Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero menjadi IFTK Ledalero pada 2022 lalu bukan sekadar pergantian papan nama. Ini adalah pernyataan sikap bahwa filsafat dan teknologi nggak harus selalu berseberangan. Di mana selama ini filsafat sering dianggap sebagai ilmu yang mengawang-awang, sementara teknologi terlihat begitu membumi dan pragmatis. Institut ini berusaha menjadi jembatan, mengingatkan bahwa di balik setiap baris kode, ada asumsi filosofis tentang kebenaran, keadilan, dan apa artinya menjadi manusia [citation:1][citation:5].
Kegelisahan di Tengah Euforia Digital
Saya sempat berbincang dengan beberapa mahasiswa di Ledalero beberapa waktu lalu, dan saya dapati kegelisahan yang sama. Mereka kagum dengan kemampuan ChatGPT yang bisa menulis esai dalam hitungan detik, tapi juga khawatir. "Kita lagi belajar filsafat biar nggak jadi budak teknologi, Pak," ujar salah satu dari mereka. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Data dari UNICEF Indonesia tahun 2024 menunjukkan, satu dari 50 remaja usia 15-24 tahun di Indonesia mengalami depresi berat, dengan 61 persen di antaranya mempertimbangkan bunuh diri, dan paparan digital yang tak terbendung menjadi salah satu pemicu utamanya [citation:15].
Angka-angka itu seperti alarm keras yang mengagetkan kita dari tidur panjang. Selama ini kita sibuk membanggakan pertumbuhan ekonomi digital yang mencapai miliaran dolar, sekaligus mengabaikan dampaknya pada kesehatan mental generasi penerus. IFTK Ledalero hadir untuk mengingatkan bahwa di tengah euforia "Indonesia Emas 2045", kita nggak boleh kehilangan akal sehat. Diskusi-diskusi yang mereka hadirkan bukan untuk menolak teknologi, melainkan untuk mempertanyakan arah dan konsekuensinya, sebuah sikap yang sayangnya masih dianggap kolot oleh sebagian kalangan industri.
Berfilsafat di Zaman Algoritma
Ketika Wakil Menteri Komdigi, Nezar Patria, berbicara tentang nasionalisme digital, beliau menekankan bahwa kemampuan berpikir kritis menjadi bekal utama generasi muda menghadapi arus informasi. "Kita harus kritis terhadap konten yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan," tegasnya [citation:4]. Ini selaras dengan apa yang coba dibangun oleh IFTK Ledalero melalui kurikulum mereka. Nggak cukup hanya pintar menggunakan aplikasi, tapi harus paham bagaimana aplikasi tersebut bekerja memengaruhi cara berpikir dan bertindak.
Mari kita ingat pesan almarhum BJ Habibie, yang pernah mengatakan bahwa mendalami teknologi berarti berfilsafat. "Teknologi bukan hasil sumber daya alam, melainkan hasil pemikiran, karya, dan ciptaan sumber daya manusia," ujarnya saat menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Indonesia pada 2010 [citation:7]. Sayangnya, semangat Habibie ini seolah luntur di tengah gempuran solusi instan digital. Banyak startup lebih tertarik pada kepraktisan daripada mempertanyakan dampak sosial jangka panjang. Di sinilah ruang diskusi yang dihadirkan institut filsafat menjadi penting, sebagai oase bagi mereka yang haus akan makna di tengah gurun data.
Menjembatani Filsafat dan Teknologi Kreatif
Transformasi STFK Ledalero menjadi IFTK bukan tanpa alasan. Dirjen Diktiristek saat meresmikannya berharap, "Generasi muda diajak untuk berkuliah di sini, tanpa harus kuliah jauh-jauh" [citation:9]. Ini adalah jawaban atas kebutuhan sumber daya manusia yang nggak cuma piawai secara teknis, tapi juga memiliki fondasi etis yang kuat. Dalam kuliah umumnya, Lukman dari Ditjen Diktiristek menyebutkan bahwa teknologi akan menentukan apakah kita hanya menjadi konsumtif penikmat teknologi atau pencipta teknologi. Jawabannya ada pada cara kita berpikir.
Kritik saya, selama ini pendidikan teknologi di Indonesia terlalu berorientasi pada "bagaimana cara membuat", tanpa cukup porsi untuk "mengapa kita membuat". Akibatnya, kita menghasilkan banyak lulusan yang mahir mengoperasikan perangkat, tapi miskin pertanyaan kritis tentang dampaknya. Melalui program studi yang menggabungkan filsafat dan teknologi kreatif, Ledalero mencoba memperbaiki ketimpangan ini. Mereka mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna, tapi juga pemikir yang mampu melihat celah-celah bahaya di balik gemerlap inovasi.
Menumbuhkan Ruang Publik yang Sehat
Kembali ke ruang diskusi yang diadakan IFTK Ledalero, model perbincangan yang mereka tawarkan sebenarnya mengingatkan saya pada konsep ruang publik yang digagas Jurgen Habermas. Sebuah arena di mana orang bisa bertukar pikiran secara bebas dan setara, tanpa dominasi kekuasaan atau modal. Ini berbeda jauh dengan dinamika di platform media sosial, yang seringkali justru memecah belah dengan algoritma polarisasi. Di forum-forum seperti itulah mahasiswa diajak untuk menemukan kembali seni berdebat yang sehat.
Namun, saya prihatin melihat minat terhadap kegiatan seperti ini terus tergerus oleh hiburan instan. Survei internal yang saya lihat dari sebuah lembaga riset di tahun 2025 menunjukkan, 72 persen Gen Z mengaku mengalami gejala adiksi internet, dan 40 persen merasa gelisah ketika terputus dari gawai [citation:15]. Ini adalah ironi besar. Kita punya potensi intelektual yang luar biasa, tapi lebih memilih melarikan diri ke dunia maya daripada menghadapi realitas di ruang diskusi. Institusi seperti IFTK Ledalero berjuang melawan arus besar ini, dan mereka layak diapresiasi.
Menanti Dampak Nyata bagi Peradaban
Setelah menyaksikan langsung sepenggal kegiatan di Ledalero, saya optimis bahwa pendekatan ini bisa menjadi model pendidikan masa depan. Bukan mengajarkan apa yang harus dipikirkan, melainkan bagaimana cara berpikir yang benar. Diskusi-diskusi yang berlangsung hangat, penuh tanya-jawab, dan nggak jarang berujung pada pertanyaan-pertanyaan filosofis yang bikin kepala pusing. Itulah kekayaan yang nggak akan pernah bisa digantikan oleh mesin pencari mana pun. Kita butuh lebih banyak ruang seperti ini, bukan hanya di Flores, tapi di seluruh Indonesia.
Namun, pekerjaan rumah besar masih menanti. Bagaimana memastikan bahwa lulusan IFTK Ledalero yang dibekali dengan pemikiran kritis ini tidak terseret arus pragmatisme industri setelah lulus? Atau bagaimana cara mengajak generasi yang sudah terlanjur kecanduan gawai untuk duduk diam dan merenung? Inilah tantangan yang harus dijawab, bukan hanya oleh institusi, tapi oleh seluruh ekosistem pendidikan dan industri di negeri ini. Kita sedang berlomba dengan waktu, dan masa depan peradaban digital kita bergantung pada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering kita lupakan...
Akankah kita mampu menciptakan teknologi yang lebih manusiawi, atau justru kita yang akan diubah menjadi mesin oleh ciptaan kita sendiri? Di sinilah pentingnya ruang diskusi seperti yang dihadirkan IFTK Ledalero, sebagai pengingat bahwa di balik setiap inovasi, selalu ada pilihan moral yang harus diambil. Dan pilihan itu, pada akhirnya, hanya bisa ditempuh melalui kebiasaan berpikir kritis yang terus diasah.



