Bagaimana Institut Filsafat Melihat Perubahan Teknologi dari Perspektif Pemikiran dan Perkembangan Manusia
Saya masih ingat betul rapat redaksi beberapa tahun lalu, ketika seorang rekan dengan semangat menyodorkan proposal untuk membuat rubrik "filsafat teknologi". Mayoritas reaksi yang muncul adalah tawa kecil, disusul pertanyaan retoris: "Filsafat buat apa? Kan yang penting teknologi jalan." Momen itu terngiang di kepala saya ketika mendengar bahwa beberapa institut filsafat di Indonesia mulai serius membedah perubahan teknologi. Bukan dari sisi teknis atau bisnisnya, melainkan dari sudut pandang bagaimana teknologi mengubah cara berpikir dan perkembangan manusia secara fundamental.
Di tengah gegap gempita pengguna internet yang mencapai 212,9 juta jiwa di Indonesia pada awal 2024, dan kewajiban kita untuk beradaptasi dengan AI setiap minggunya, muncul pertanyaan mendasar: Apa sebenarnya yang terjadi pada diri kita ketika kita menggunakan teknologi? Sebuah institut filsafat dengan pendekatan fenomenologis melihat bahwa teknologi bukanlah alat netral. Teknologi adalah mediator yang mengubah relasi kita dengan realitas. Ketika kita menggunakan peta digital, cara kita merasakan ruang dan arah berubah. Teknologi tidak lagi "di tangan", tetapi "di dalam" cara kita memahami dunia.
Lebih dari Alat: Teknologi sebagai Cermin Kesadaran
Dalam diskusi yang saya ikuti di sebuah institut filsafat di Yogyakarta, seorang pengajar menyampaikan gagasan yang membuat saya bergidik. Ia berargumen bahwa teknologi adalah proyeksi keluar dari cara kerja pikiran manusia itu sendiri. Analogi sederhananya: kita menciptakan mesin hitung karena otak kita sebenarnya bekerja dengan pola logika hitung. Kita menciptakan internet karena jiwa kita haus akan koneksi tanpa batas. Dengan kata lain, teknologi adalah cermin yang memperlihatkan apa yang sudah ada dalam diri kita. Saya jadi teringat bagaimana para filsuf seperti Cassirer melihat bahwa alat memiliki "logos" sendiri, sebuah hukum internal yang melampaui fungsi praktisnya.
Perspektif ini menantang narasi umum yang menganggap teknologi sebagai kekuatan asing yang datang untuk mendikte kehidupan kita. Justru, teknologi memperlihatkan "wajah" manusia itu sendiri—ambisi, kreativitas, dan bahkan kebingungan kita. Ketika kita khawatir AI akan menggantikan pekerjaan manusia, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan pertanyaan tentang apa itu "pekerjaan" dan "nilai" dalam kehidupan. Institut ini mengingatkan bahwa perubahan teknologi pada dasarnya adalah ajakan untuk berefleksi: Siapa kita sebenarnya sehingga menciptakan hal ini?
Membongkar Mitos Determinisme Teknologi
Banyak dari kita, termasuk saya, kadang terjebak dalam pemikiran bahwa teknologi berkembang dengan kecepatannya sendiri dan kita hanya bisa mengikuti. "Teknologi sudah jalan, mau nggak mau kita harus ikut," begitu kata seorang eksekutif startup yang saya wawancarai bulan lalu. Pernyataan ini, yang sering kita dengar, sebenarnya adalah bentuk determinisme teknologi—keyakinan bahwa teknologi adalah kekuatan otonom yang menentukan arah sejarah. Pendekatan ini mematikan daya kritis kita. Meminjam analisis para filsuf, keyakinan seperti ini hanya melanggengkan "spectacle" atau tontonan yang membuat kita pasif.
Institut filsafat justru melakukan pembalikan: teknologi adalah produk manusia, dan karena itu, ia terbuka untuk diarahkan dan diubah. Saya membayangkan bagaimana jika para pengembang AI diwajibkan mengambil mata kuliah etika dan filsafat selama satu semester sebelum merilis produknya. Mungkin kita tidak akan melihat kompetisi siapa yang bisa mengeluarkan fitur "kecerdasan" paling wahyu, tanpa memikirkan dampaknya terhadap kesehatan mental pengguna. Ini bukan soal anti-kemajuan, melainkan soal mengembalikan kendali ke tangan manusia selaku pencipta.
Multi-stabilitas Teknologi: Antara Harapan dan Risiko
Konsep "multi-stabilitas" dari filsuf teknologi Don Ihde memberikan lensa yang menarik. Teknologi tidak memiliki esensi tunggal atau tujuan tetap. Sebuah pisau bisa menjadi alat bedah yang menyelamatkan nyawa, atau senjata yang membunuh. Demikian pula AI, ia bisa menjadi asisten pribadi yang membantu riset akademik, atau mesin propaganda yang memecah belah. Di sini, saya melihat titik kritisnya. Para pengembang seringkali tidak bisa memprediksi semua kemungkinan penggunaan teknologi mereka. Siapa yang menduga di tahun 2003, bahwa platform yang dirancang untuk mahasiswa akan berubah menjadi pabrik gosip dan hoaks yang berpengaruh terhadap demokrasi?
Inilah mengapa institut filsafat menekankan pentingnya kesadaran akan kompleksitas ini. Mereka mengkritik industri yang terlalu cepat memuji inovasi, tanpa membangun "alat pengaman" berupa kesadaran kritis di tengah masyarakat. Nggak heran kalau kita sering melihat fenomena "FOMO" (Fear of Missing Out) teknologi—dimana kita merasa harus buru-buru mengadopsi setiap hal baru tanpa bertanya "mengapa" dan "untuk apa". Padahal, di sinilah peran refleksi filosofis sangat penting untuk memberikan jarak pandang agar kita tidak terseret arus.
Teknologi dan Konsep "Waktu" Manusia
Saya pernah mengikuti kelas filsafat sejarah yang membahas bagaimana cara manusia mengukur waktu berubah dari jam matahari, jam pasir, hingga jam tangan mekanik. Setiap perubahan alat ukur mengubah kesadaran kita akan waktu. Kini, dengan adanya notifikasi yang membanjiri ponsel setiap detik, kesadaran kita akan "sekarang" menjadi sangat terfragmentasi. Kita hidup dalam "kekinian" yang artifisial, yang diciptakan oleh algoritma untuk menahan perhatian kita. Institut filsafat mengingatkan bahwa perkembangan teknologi seharusnya membuat kita lebih bebas, bukan malah memperbudak diri dalam ritme yang diciptakan mesin.
Transformasi ini juga berimbas pada cara pandang kita terhadap masa depan. Jika teknologi terus bergerak eksponensial, seperti prediksi yang sering kita dengar, lalu di mana posisi kita? Para pemikir di institut itu menyatakan bahwa manusia tidak sedang "transformed" (berubah total) menjadi post-human, melainkan "augmented" (diperluas). Artinya, esensi kemanusiaan kita—kemampuan merasakan sakit, mencintai, dan mencari makna—tetap ada, namun diekspresikan dengan cara baru. Nggak ada gunanya kita terpaku pada rasa takut akan digantikan mesin, jika kita lupa untuk mengasah kapasitas empati dan imajinasi yang justru nggak bisa dicoding.
Kembali ke "Logos": Menemukan Kembali Bahasa Sejati
Mungkin karena saya sering berurusan dengan kata-kata, saya sangat tertarik dengan perspektif filosofis yang melihat teknologi sebagai bentuk "logos"—sebuah prinsip atau keteraturan yang membentuk realitas. Cassirer menyebut bahwa bahasa bukan hanya alat untuk menggambarkan realitas, tetapi alat untuk *membentuk* realitas. Analogi ini persis dengan algoritma media sosial atau AI. Teknologi "berbicara" kepada kita dan membentuk apa yang kita percaya sebagai fakta. Dialog yang terjadi antara pengguna dan antarmuka digital adalah semacam pertukaran bahasa yang bersifat ontologis—ia menciptakan dunia baru.
Sayangnya, bahasa yang digunakan saat ini sering kali adalah bahasa ekonomi dan efisiensi. "Minimalisir klik", "maximalkan engagement", "optimasi konversi"—ini adalah mantra industri yang berbicara tentang manusia sebagai objek. Saya berani berargumen bahwa kita kehilangan aspek puitis dari teknologi. Seharusnya teknologi bisa menjadi medium ekspresi, bukan hanya instrumen. Institut filsafat mengajak kita untuk mendesain teknologi yang memiliki "kecantikan" dan "makna", bukan hanya fungsi. Mereka mungkin akan bertanya, di mana ruang untuk "permainan kemungkinan" dan "kejutan" dalam antarmuka aplikasi kita saat ini?
Menuju Sintesis: Teknologi untuk Manusia, Bukan Sekadar Produk
Pada akhir sesi diskusi di institut tersebut, saya sempat terlibat percakapan dengan seorang dosen. Saya bertanya, apakah semua diskusi ini bukan hanya sekadar luapan akademis yang jauh dari kenyataan pahit pasar dan bisnis? Jawabannya menggelitik: "Filsafat bukan tentang menjawab semua pertanyaan, tapi tentang memastikan kita bertanya pada pertanyaan yang benar. Selama industri teknologi bertanya 'bagaimana membuat ini lebih cepat?', filsafat bertanya 'mengapa kita harus terburu-buru?'" Sebuah sindiran halus yang terasa tajam, terutama ketika saya teringat metrik produk yang mengejar kecepatan loading di bawah 2 detik, sementara kehilangan sentuhan humanis.
Maka, kesimpulan dari perjalanan pemikiran ini bukanlah untuk menolak teknologi. Justru, institut filsafat menawarkan pandangan yang optimis namun kritis: teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari evolusi manusia, tetapi kita harus memiliki "kantong" kesadaran agar kita tidak tersesat. Harapannya, kita mampu menciptakan teknologi yang membawa kita pada pengalaman "dialog"—sebuah pertukaran makna, bukan sekadar transmisi data. Namun, apakah industri dan pengguna yang haus akan kepraktisan siap untuk memperlambat diri dan berdialog? Hanya waktu yang akan menjawab...
Ke depan, pertanyaan terbesar bukanlah seberapa canggih teknologi yang bisa kita ciptakan, tetapi seberapa manusiawi kita bisa tetap bertahan dan berkembang di tengah-tengah ciptaan kita sendiri. Mampukah kita mengintegrasikan kebijaksanaan kuno dari pemikiran filosofis dengan inovasi masa kini, atau kita akan menjadi budak bagi logika mesin yang kita bangun sendiri? Jawabannya, mungkin, terletak pada kemauan kita untuk berhenti sejenak dan merenung—sebuah praktik yang makin langka di era yang makin bising ini.
