•  Beranda  /
  •  Public  /
  •  Diskusi Politik Mahasiswa IFTK Ledalero: Mengawal Demokrasi-Menyelamatkan Bangsa

Diskusi Politik Mahasiswa IFTK Ledalero: Mengawal Demokrasi-Menyelamatkan Bangsa

img

Pemilihan Umum Presiden Indonesia 2024 adalah sebuah proses demokrasi untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden untuk masa bakti 2024–2029. Pilpres 2024 akan berlangsung pada 14 Februari 2024. Artinya, hari-H pencoblosan semakin dekat. Dinamika politik mulai dipermainkan secara sempurna oleh para elite politik, mulai dari daerah hingga nasional. Permainan politik itu kadang menimbulkan kebingunan masyarakat dalam menentukan pilihannya dan tentu akan berdampak pada nasib demokrasi Indonesia.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang persepsi dan isu-isu yang berkaitan dengan pemilu serentak mendatang, civitas academica Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero melaksanakan diskusi ilmiah bertema politik dengan tajuk "Dinamika Politik Indonesia dan Kontestasi PILPRES 2024" bertempat di Auditorium St. Thomas Aquinas pada Sabtu (03/02/23). Diskusi ini menghadirkan dua pembicara yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Teologi/Agama Katolik IFTK Ledalero,  yaitu Yohanes De Brito Nanto dan rekannya Arsenius Nega. Diskusi hangat ini dimoderatori oleh Pankrasius Tevin lory, mahasiswa Semester VIII Prodi Filsafat IFTK Ledalero, yang juga merupakan wakil ketua 1 BEM IFTK Ledalero.

sambutan rektor diskusi politik mahasiswa 1

(Ket: Rektor IFTK Ledalero Dr. Otto Gusti Madung menyampaikan sambutan membuka kegiatan seminar politik di Auditorium St. Thomas Aquinas, Ledalero pada Sabtu (03/02. Foto/Sie Dokumetasi BEM)

Dalam sambutan pembuka, Max Gepa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IFTK Ledalero mengajak rekan mahasiswa untuk terlibat aktif dalam diskusi politik di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi. Menurutnya, mahasiswa mesti bertukar gagasan-gagasan kritis demi keberlangsungan kontestasi pilpres 2024 dan menyelamatkan demokrasi. Sejalan dengan itu, Dr. Otto Gusti Madung Ndegong, Rektor IFTK Ledalero menegaskan bahwa mahasiswa harus berjuang membela demokrasi dari tangan oknum yang ingin berkuasa, tetapi dengan cara yang tidak demokratis. “Sekarang ini, kehidupan sosial politik Indonesia sedang dalam keadaan terluka di bawah kepemimpinan oknum yang tidak lagi demokratis. Panggilan kita adalah menyelamatkan demokrasi dari para penjahat yang berkuasa," tegas Otto Gusti.

Dari berbagai sudut pandang

Pembicara pertama, Rio Nanto, dengan makalah berjudul "Pemilu, Partai Politik dan Oligarki" menegaskan bahwa pemilu kali ini sarat dengan manuver politik yang ugal-ugalan, nondemokratis dan politisasi kekuasaan secarah serampangan. Penulis buku Politik Era Milenial itu melihat bahwa sosok Jokowi kini menjadi garda terdepan melabrak konstitusi. “Nyatanya beliau secara terang-terangan bersama sejumlah menteri yang bekerja sama dengan oligarki mengambil posisi untuk melanggengkan kekuasaan dengan meng-endorse anak kandung sendiri,” ungkap Rio. Selain itu, mahasiswa yang pernah menjadi TOP 3 Duta Mahasiswa Berprestasi Nasional 2020 tersebut menilai bahwa kehadiran oligarki dalam pemerintahan Indonesia sudah merenggut hakikat demokrasi substansial dan juga menggerus rasa keadilan sosial. Sistem perpolitikan Indonesia yang terkenal mahal, menurut Rio, menjadi pintu masuk cengkeraman oligarki yang menjadi penyandang ijon politik bagi para politisi. Misalnya, para oligarki yang bermodal (uang) dengan mudah mendirikan partai politik agar mereka terpilih menjadi presiden. Bahkan, oligarki bisa memperbanyak dirinya dalam bentuk oligarki politik, oligarki media serta oligarki tambang. “Semuanya punya intensi yang sama yaitu mempermainkan demokrasi dan hal ini mesti dibongkar,” tegasnya.

sambutan rektor diskusi politik mahasiswa 2

(Ket: kiri-kanan: Tevin Lory, Rio Nanto,  Arsen Nega sebagai moderator dan pemateri dalam kegiatan seminar politik di Auditorium St. Thomas Aquinas, Ledalero pada Sabtu (03/02). Foto/Sie Dokumetasi BEM).

Pembicara kedua, Arsenius Nega membungkus materinya dalam judul “Visi-Misi Capres Pemilu 2024, Post Democracy dan Peluang Populisme Pancasila”. Arsen, dengan pisau analisis yang tajam memaparkan pentingnya mengiplementasikan visi dalam misi-misi. Pertama, memperkokoh dan memulihkan kekuatan demokrasi. Ia melihat bahwa demokrasi mengalami kemunduran, sendi-sendinya telah dirusak secara demokratis. Kedua, pembangunan dan pelestarian lingkungan hidup, dengan harapan, masyarakat miskin dan alam tidak dikorbankan. Ketiga, tata kelola pemerintahan. Lagi-lagi, Arsen mendapati kenyataan, tata kelola pemerintahan yang buruk menjadi ladang subur korupsi. Untuk mengatasi musibah demokrasi yang menjamur, Arsen menawarkan upaya solutif yakni melalui 'Populisme Pancasila'. Baginya, populisme pancasila akan mengembalikan demokrasi pada koridor politiknya. “ Hal ini karena Populisme pancasila hadir di tengah ketiadaan kekuatan kiri dan nasionalis progresif di Indonesia,” kata Arsen.

Pada sesi diskusi, Steri Pantas, mahasiswa pascasarjana IFTK Ledalero, memberikan pertanyaan yang menarik terkait upaya solutif, khususnya bagi mahasiswa dalam menentukan pilihan yang tepat di tengah kuatnya dominasi kaum oligarki dalam pemerintahan sekarang (era post democracy).

Menanggapi pertanyaan tersebut, Arsen menegaskan bahwa mahasiswa harus menghidupi intelektulisme, kritisisme dan juga oposisi yang sekarang sudah melemah di tanah air Indonesia. Lebih lanjut Arsen mengingatkan supaya para mahasiswa harus berani berdiri sebagai oposisi yang terus mengontrol dan memastikan roda pemerintahan Indonesia tetap demokratis.

       Sebagai closing statement, Rio Nanto dan Arsen Nega dengan intensi positif mengajak mahasiswa untuk bersama-sama mengawal demokrasi dari sekelompok 'monster' yang ingin berkuasa, tetapi menggandeng kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Mereka juga menghimbau para mahasiswa untuk memilih pemimpin dengan pertimbangan mendalam dan kritis.

 

Sinyo Darling & Jimi Maleng

BAGIKAN